-
Slideshow
Download Now
Selamat Datang di Blog saya ... Selamat Membaca Informasi dari saya..
Total Tayangan Halaman
Diberdayakan oleh Blogger.Mengenai Saya
Recent Posts
Recent Comments
Popular Posts
Survey di AW Survey Dibayar Dollar
AW Survey merupakan sebuah program survey berbasis online yang menawarkan bayaran yang terbilang cukup tinggi dengan hanya memberikan pendapat anda. AW Survey adalah perusahaan penyelenggara survey secara online yang bebas diikuti oleh siapapun dari berbagai negara selama anda bisa berbahasa Inggris. Tapi ga usah kawatir ini cuma sekedar formalitas saja ko. Perusahaan ini menawarkan bayaran yang sangat tinggi untuk mereview tampilan website - website yang ingin memperbaiki tampilan website mereka. Ketika kita mendaftar pada program ini kita langsung dihadapkan kepada beberapa buah survey yang nilainya 27 dolar. AW Survey memberikan bayaran bernilai 1-25 dolar untuk setiap survey yang anda isi. Mereka juga memberi bonus 6 dolar untuk survey pembuka dan yang menyertainya 4 dolar per survey. Mereka juga membayar anda 1.25 dolar per account yang mendaftar melalui anda. Ditambah lagi ada bonus 500 dolar yang diundi setiap bulan. AW Survey mengirim bayaran anda ke rekening Paypal. Minimum pencairan adalah sebesar $75. Pembayaran membutuhkan waktu 3-5 hari untuk direview oleh tim AW Surveys.
- Waktu isi jawaban jangan lupa anda harus tulis pake bahasa inggris kalo ngak nanti duitnya hangus.
- Pembayaran akan sampai ke rekening Paypal anda kira-kira 3-5 hari kerja setelah tanggal request.
- Setiap awal bulan akan ada survey baru yang bisa anda isi, jadi rajin-rajin login tiap awal bulan yah.
- Kalo sewaktu jawab survey ada website yg ngak bisa diakses / error / limited access dari Indonesia, anda tetap isi saja review yang diminta dengan menuliskan perasaan / kesan / tanggapan / kritik / saran anda (tentunya pake Inggris juga yah). Cara ini sudah saya coba dan hasilnya sangat ampuh, semua review saya diluluskan & akhirnya saya dibayar.
Free Health Products
Is it Possible to Get Artificial Nail Fungus From Nail Shops?Artificial nails have come to stay. It is rare to find a woman who doesn’t wear it these days. This naturally follows that they are used in covering their natural toes and to make them more beautiful. However, women have been known to use artificial nails to cover up nail fungus infection hence resulting in a coined word “artificial nail fungus”. Unfortunately, this doesn’t cure nor solve the problem. Instead, it worsens it. Let me explain. Nail fungus grows in a favorable environment in which there is a lot of moisture and it is dark. Now when you apply artificial nails to the already infected toe nails, it creates an environment that is both dark and has a lot of moisture. Since these fungi grow only in areas that are airless and on feet that are both damp and warm, the artificial nail thus inhibits the easy flow of air around the toenail.Fungal nail infections are more common among the toe nails than among the finger nails. But please note that any finger nail that isn’t natural but attached to the real finger nail is a huge contributor to the spread of the fungal infection. It is understandable that when the nails look yellowed as a result of the infection, the natural inclination is to want to put it out of sight and hide because of the stares you get on the fingers or toenails. But know that when you hide the nails under artificial nails, you are creating a more enabling environment that will foster the faster growth and spread of the fungus. So, while it is covered, no one else of course sees the nails while it keeps getting destroyed and the condition worsens. If this gets to the extreme, you may not even be able to hide it any longer as the nail becomes so bad that it is virtually impossible to even apply the artificial nails. This is the reason it is better for you to nip the “monster” in the bud.The spread of the fungus nail infection is even more common among the women than men because of the flourishing beauty industry. It is common fact that women these days visit nail shops where professional nail experts help apply the artificial nails they want. Now, it very easy for women to get their pedicures and manicures done for them at these shops and because of this, nail spas are very rampant and well patronized by women and even some men. However, these same shops which are a source of satisfaction to women can also be a source of sadness as they beautiful nails they go to sculpt their nails, can become infected by the nail fungus infection. This is possible because certain women who also visit these shops may have the nail fungus growing in their fingernails.For more information visit: http://www.zetaclear.com/?aid=470248
The result of our formula? You get the combined antioxidant power of Acai Berries with the health-promoting benefits of Green Tea and other nutrients in one time-saving, easy-to-take capsule.
http://mhlnk.com/906D4F11
PTC yang diburu Clickers
Bisnis yang satu ini memang selalu diburu oleh para clickers alias orang yang melakukan klik pada iklan yang telah disediakan oleh penyedia iklan, dengan komisi tertentu dan dapat dicairkan ke dalam rekening tabungan kita. Banyak sekali pilihan yang ditampilkan di dunia maya untuk mencari para clickers yang masing-masing punya sistem yang tidak sama, ada yang berasal dari luar negeri (PTC Luar Negeri) dengan komisi Dollar $, dan juga banyak juga yang berasal dari Lokal (PTC Lokal) dengan komisi Rupiah Rp. Nah sekarang kita coba masuk ke PTC Lokal, diantaranya :
PTC Luar Negeri di antaranya :
Tunanetra Bali Pun Ketagihan Teknologi
Penulis: Eko Ramaditya Adikara - detikinet
Hal tersebut penulis rasakan saat berkunjung ke SLB/A Negeri Bali, Rabu 25/6/2011.
"Kalau murid-murid di sini sudah belajar komputer suka ketagihan, biasanya minta tambah jam belajar," ujar Suradi, salah seorang pengajar di sekolah tersebut.
Hal serupa juga diungkapkan Fajar, instruktur komputer yang langsung menangani tunanetra dalam belajar komputer. "Mereka haus akan teknologi, jadi saya berusaha memberikan berbagai pelajaran yang berhubungan dengan komputer yang dapat langsung mereka manfaatkan," jelasnya.
Ayu, seorang siswi yang saat ini menjalani pendidikan inklusif di sebuah SMA di Bali merasa sangat terbantu dengan adanya teknologi asistif seperti komputer bicara, printer Braille, atau alat perekam suara.
Saat penulis mengenalkan dan mendemonstrasikan voice recorder yang dapat merekam percakapan secara real-time, Ayu merespon dengan sangat antusias. "Alatnya kecil, jadi praktis dan bisa sangat membantu merekam pelajaran di kelas," ujarnya sambil meraba voice recorder milik penulis.
Siswa-siswi yang lain pun tak kalah semangatnya. Mereka mengaku senang menghabiskan waktu berjam-jam di laboratorium komputer yang di dalamnya terdapat lebih dari lima unit komputer bertenaga dual-core.
Hasilnya? Sebagian besar di antara mereka sudah memiliki akun Facebook dan cukup aktif mengelolanya, baik lewat komputer maupun ponsel.
Selain itu, mereka juga telah menguasai aplikasi perkantoran dasar seperti Microsoft Word dan Microsoft Excel, sehingga dapat mereka manfaatkan dalam proses belajar mengajar, khususnya mereka yang tertarik masuk sekolah inklusif, yang notabene sangat membutuhkan kedua aplikasi tersebut.
Berdasar pengalaman di atas, penulis beranggapan bahwa saat ini rekan-rekan tunanetra di Indonesia sudah mulai bangkit dan mengadopsi TI sebagai salah satu media substitusi fungsi penglihatan mereka yang hilang. Hal tersebut, boleh jadi, juga telah dilakukan sekolah luar biasa lain di Indonesia.
Dengan demikian, motivasi belajar tunanetra dapat ditumbuhkan bila lingkungan bersedia mengakomodasi kebutuhan mereka, minimal memperkenalkan penggunaan dan manfaat TI sebagai penunjang kehidupan tunanetra.
Jadi, TI harus dapat menjadi kawan yang mampu menstimulasi minat tunanetra, bukan lagi lawan yang susah untuk ditaklukkan atau dikuasai.
Bicara soal teknologi asistif tunanetra yang harganya masih selangit, memang hal tersebut adalah tantangan besar bagi kita. Namun, penulis yakin kalau kita mampu menyiasati hal tersebut -- misalnya menggunakan tape recorder atau voice recorder yang terjangkau harganya -- maka proses implementasi teknologi informasi bagi tunanetra dapat tetap berjalan.
Nah, jika tertarik, bolehlah mampir ke SLB/A Negeri Bali yang terletak di bilangan Serma Gede, Denpasar.
Bila ingin mendengarkan wawancara penulis saat berkunjung ke sana, silahkan unduh melalui link ini.
Kiat-kiat Developer Sukses
Dalam acara Ngopi bareng detikINET, Rabu (27/4/2011), Andi Sie, developer dari eEvent menyebutkan, yang pertama harus diingat adalah seorang developer harus memiliki misi dan visi.
"Kita harus tahu apakah yg kita buat itu bermanfaat atau tidak, apakah memecahkan problem yang ada? Misalnya, aplikasi Al-Quran yang memungkinkan orang bisa membaca Al-Quran on the go," kata Andie kepada hadirin.
Dia menambahkan kiat berikutnya adalah validasi kecil-kecilan. Yang dimaksud adalah aplikasi yang dibuat haruslah sederhana, mudah digunakan dan jangan menuntut terlalu sempurna.
Pernyataan ini diamini oleh Andre Raditya dari Better-B. "Yang pertama harus kreatif, dan tentu saja solve the problem. Awalnya, minimal aplikasi itu harus bisa menyelesaikan problem si pembuatnya sendiri," ujarnya.
Sementara itu, Andry S Huzain dari Detik.com mengatakan sesuatu yang baru adalah syarat mutlak. "Harus selalu ada yang baru adalah kuncinya. Yang kedua, mengkuti kemana uang mengalir. Kalau sekarang yang lagi ramai di App Store atau App World, ya ikutin!" ujarnya.
Abangkis dari Kommutta pun mengungkapkan kiat senada, yakni memulainya dengan melihat kebutuhan di sekeliling kita. "Lihat apa yang sedang dibutuhkan. Kalau banyak permintaan, bikin. Jika banyak yang pakai, itu sudah sukses buat kami," kata Abangkis.
Tak ketinggalan, Oon Arfiandwi dari 7Langit menambahkan bahwa developer aplikasi yang baik adalah developer yang tahu bagaimana memonetize aplikasi yang dibuatnya. Yakni, bagaimana aplikasi tersebut bisa menjadi ladang penghasilan.
Ngopi Bareng detikINET adalah diskusi santai bulanan yang diadakan detikINET. Acara kali ini didukung oleh Anomali Coffe.
'Surga' Bajakan, Pasar Software Indonesia Tetap Dilirik
Ardhi Suryadhi - detikinet
"Hal ini terkait populasi penduduk Indonesia yang begitu besar, yakni mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Tentu saja ini menjadi peluang pasar tersendiri di tengah tingginya angka pembajakan," ujarnya, dalam jumpa pers di Penang Bistro, Jakarta, Rabu (1/6/2011).
Ia pun optimistis jika tak semua pengguna komputer Indonesia akan menggantungkan diri dengan software ilegal. Terlebih jika melihat lobang keamanan data yang mengancam.
"Apa mereka mau mengorbankan keamanan komputernya dengan tidak membeli software asli yang siap memberikan layanannya," lanjut pria asal Hong Kong ini.
Nilai komersial piranti lunak tanpa lisensi yang diinstal pada komputer di Indonesia menurut catatan IDC dan Business Software Alliance menembus angka USD 1,32 milliar pada tahun 2010.
Adapun untuk tingkat pembajakannya mencapai 87 persen, sehingga menempatkan Indonesia di posisi ke-11 pada daftar negara pembajak terbesar sejagat.
Kampanye Kaspersky
Kaspersky sendiri tengah mengambil ancang-ancang untuk membuka kantor perwakilan di Indonesia. Jika tak ada aral melintang rencana itu akan terealisasi pada tahun 2012 mendatang.
"Untuk membuka kantor di suatu negara itu tidak bisa dilakukan semalam. Harus melakukan persiapan dari sisi sumber daya manusia, model bisnis, dan lainnya," tukas Jimmy.
Namun sebagai 'pemanasan', perusahaan antivirus asal Rusia ini memperluas channel di Indonesia dengan menunjuk PT Nusantara Utama Technology untuk juga menggarap jaringan distribusi konsumer di Indonesia.
Sebelumnya, Nusantara yang telah bermitra dengan Kaspersky sejak Mei 2010 ini hanya berfokus menangani segmen korporat. Namun dengan penambahan wilayah pemasarannya ini, Nusantara pun akan meluncurkan program Kampanye Keamanan Kaspersky di Indonesia.
"Kami sudah punya ancang-ancang untuk ekspansi ke luar kota seperti Bandung, Surabaya, Medan, dan Makasar. Kalau Jakarta pasti nama Kaspersky sudah cukup dikenal," imbuh Michael Ong, Vice President PT Nusantara Utama Technology.





